Oleh Jajang Suryana
Tahun 80-an, ketika saya baru mulai belajar bekerja di Singaraja, tepatnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP UNUD, kini Universitas Pendidikan Ganesha, saya sempat berbincang tentang perhatian Pertamina terhadap bidang seni rupa. Waktu itu, Prof. Sudjoko (alm), guru besar seni rupa FSRD ITB, menulis tentang hal itu di dalam majalah Tempo. Sayang karena kebanjiran, data tentangnya tidak bisa terselamatkan. Waktu itu, Hardiman (kini menjadi kurator aneka pameran di Indonesia) menyatakan, betapa sebuah perusahaan yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan seni, telah memberi lahan kegiatan kepada para pelukis. Waktu itu yang diundang oleh Pertamina adalah para pelukis senior seperti Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Affandi, dan banyak lagi.
Perilaku seniman, terutama dalam berkarya, tentu tidak bisa dikekang dengan tema tertentu. Jika Pertamina mengundang mereka untuk melukis tentang Pertamina, akankah mereka mau dijerat dengan tema yang mengikat seperti itu? Tentu bisa diterka, banyak seniman yang emoh melakukan hal itu. Apalagi seniman-seniman besar yang telah memiliki nama kondang. Tetapi, di balik semua itu, kita bisa melihat bagaimana upaya pengelola Pertamina pada waktu itu, untuk bisa menyelenggarakan kegiatan yang tidak populer. Karena tidak populer, hal itu dianggap aneh. Tetapi, malah kemudian menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Dan, para pelukis tetap bisa melampiaskan ekspresi masing-masing tanpa terlalu terganggu dengan lingkungan yang "disediakan".
Menarik sebagai bahan perenungan, sebuah perusahaan yang cenderung mengelola sesuatu yang "kaku, terikat waktu produksi yang ketat, dan sangat masinal", berusaha melengkapkan dirinya, menyeimbangkan kondisinya, dengan menggandeng para pengolah rasa. Perusahaan yang cenderung berhitung untung-rugi produksi menyadari perlunya keseimbangan yang mendasari pola berpikir para pelakunya. Pola pikir untung-rugi, mungkin bisa dikategorikan sebagai pola pikir yang lebih mengutamakan rasio. Di sini, rasa sama sekali tidak diberi peranan. Sementara itu, para pelukis, para pengolah rasa, masih bisa menempatkan rasio di dalam kegiatan dan hasil kegiatannya. Oleh karena itu, kedua anugerah Allah yang telah diberikan hanya kepada mahluk yang bernama manusia itu --rasio dan rasa, perlu diposisikan secara seimbang oleh manusia dalam berbagai kegiatan kemanusiaannya.
Dalam kondisi masa sulit seperti sekarang ini, jika perusahaan negara hanya berpikir masalah untung-rugi semata, akan jauh dari tujuan menyejahterakan masyarakat pendukung negara. Padahal, masyarakat, seperti tersirat dalam naskah undang-undang dasar, adalah pemilik syah semua kekayaan negara. Tetapi, jika masyarakat kebanyakan sama sekali tidak pernah mendapatkan efek nyaman dari produk kerja perusahaan-perusahaan yang diserahi untuk mengelola kekayaan negaranya, rasa keadilan tidak akan tegak.
Bisa disaksikan, bagaimana rakyat banyak menantri minyak tanah, mengantri bensin, mengantri gas. Masya Allah, sementara itu ada sekelompok manusia yang hilang rasa, bisa menimbun dan kemudian menjual minak tanah, bensin, maupun gas, dengan semena-mena. Bahkan banyak juga yang menjualnya secara ilegal. Penimbun minyak tanah, bensin, maupun gas, tidak mungkin hanya rakyat kecil biasa saja. Mereka pasti punya hubungan langsung atau tidak langsung dengan para penentu kebijakan turunnya minyak tanah, bensin, ataupun gas, dalam jumlah banyak. Ukuran yang menunjukkan banyaknya barang, sudah bisa dipastikan akan mengait dengan sumber awal. Barang yang banyak tidak mungkin bisa didapatkan dari golongan pengecer, tentu!
Untuk menyejahterakan rakyat, pernah tercetus dari enam fraksi di DPR, dulu, mereka telah bersepakat bahwa seluruh dana kompensasi kenaikan harga BBM untuk keperluan pembebasan biaya sekolah pada tingkat SD dan SMP. Ternyata, hal itu adalah berita yang hingga kini (2009) belum menjadi kenyataan yang lengkap. Para pengelola negara yang baru, yang kini masih dilengkapi, mudah-mudahan memiliki dan bisa menempatkan rasa bagaimana masyarakat yang telah mengantarkan mereka di kursi-kursi kebesaran itu memerlukan kesejahteraan. Mereka hanya memerlukan sesuatu yang sederhana, tak berlebihan: ada sandang, ada pangan, siap BBM, sesuai dengan kebutuhan dasar mereka.
Masih adakah keseimbangan rasio dengan rasa dalam mengelola anugerah Allah yang dipercayakan kepada negara kita? Jika tidak ada, Allah Mahakaya, Mahamemiliki semua anugerah tersebut. Allah bisa saja mengambil kembali semua milikNya!

No comments:
Post a Comment