Warta Pertamina
| Edition No. 10 / XLIV / Oktober 2009 | |
| BELAJAR - BEKERJA | |
| Jakarta, Tuesday, October 06 2009 (15:52) |
| Pendiri Pertamina almarhum Ibnu Sutowo pernah memasyarakatkan di lingkungan internal Pertamina, sebuah motto yang digali dari pengalamannya sendiri, bekerja sambil belajar, belajar sambil bekerja. Beberapa puluh tahun setelah itu, seorang pekerja setengah bercanda, "Wah, kapan bekerjanya kalau belajar terus?" WePe tersenyum mendengar celotehan sang pekerja, karena WePe belum lama mewawancarai Ibnu Sutowo, sekitar lebih sebulan sebelum sang tokoh ini berpulang, pada tahun 2001. Sang pekerja belum mengerti filosofi motto tersebut. Belum tahu mengapa Pak Ibnu mengemukakan filosofi pengalamannya. Pak Ibnu cerita, bahwa ketika dirinya ditunjuk untuk memimpin PN Permina tahun 1957 adalah sebagai seorang tentara, seorang dokter, yang belum pernah sama sekali mengenal mengenai perminyakan, boro-boro memahami seluk-beluk bisnisnya. Mau menjual minyak ke Singapura, Ibnu tidak tahu berapa harga minyak. Orang Departemen Perdagangan pun saat itu, kata Ibnu, tidak ada yang mengetahui. Akhirnya Ibnu Sutowo mencari informasi kesana kemari, dan nyatanya berhasil mengekspor minyak pada tahun 1957. Sosok Ibnu yang bukan orang minyak dan hanya dibekali puing-puing sisa bumi hangus di kilang Pangkalan Berandan, Sumatera Utara, nyatanya bisa membangun perusahaan migas yang begitu hebat dan besar. Filosofinya ya itu tadi Ibnu Sutwo terus belajar sambil mengendalikan Pertamina. Berhasil! Alangkah wajarnya kalau WePe tersenyum pahit mendengar celotehan dan lebih sebagai pelecehan seorang pekerja kepada Pak Ibnu, "Kapan bekerjanya?" Dalam perjalanannya, Pertamina di sektor hulu lebih jago melakukan kegiatan permigasan di daratan ( onshore). Nah, sekarang filosofi itu dijalankan kembali mulai Dirut Ari H. Soemarno sampai sekarang. Saat ini, Pertamina menerjuni bidang eksplorasi dan produksi di laut lepas (offshore). Keahlian Pertamina di bidang offshore tergolong cepat, karena proses "belajar sambil bekerja, bekerja sambil belajar" berjalan cepat. Pertamina menggandeng perusahaan migas yang memang ahli di bidang itu seperti StatOil, Petrobras, Shell, dan lain-lain. Beberapa lapangan yang di mana Pertamina ikut kiprah, adalah lapangan offshore. Sebutlah Blok 10/II11.I 1 adalah ladang lepas pantai Vietnam bagian selatan. Lalu Blok SK 305 di Malaysia, Blok 17 - 3 Sabratah (Libya).Blok 13 (Sudan), Qatar Offshore Blok-3, (Qatar) juga ladang offshore. Memang bukan sekadar ingin belajar sesuatu yang selama ini belum terlalu ditekuni. "Di onshore sudah sedikit reserve-nya. Kemudian semakin sulit pembebasan lahan, sehingga proses untuk meningkatkan produksi itu menjadi lama. Makanya kita mencari-cari di offshore," kata Manager New Ventures Bambang Manumayoso. Menurut Bambang Pertamina akan terus belajar dan berusaha menjadi operator di offshore. Direktorat Hulu membuat organisasi UBD --Upstream Business Development - yaitu organisasi yang berhubungan dengan bagaimana Pertamina untuk melakukan growth, tumbuh. Salah satu strategi Pertamina di sektor hulu adalah development capability & skill. Pertamina sedang terus meningkatkan kapabilitas dan keterampilan SDMSDM- nya. "Untuk menaikkan produksi, kita harus mendidik orang-orang Pertamina untuk menjadi andal di shallow water dan di deep water," ujar Bambang Manumayoso. Dengan 400 orang karyawan ONWJ yang berpengalaman rata-rata 20 tahun di bidang bidang offshore,merupakan aset bagi Pertamina dalam melanjurkan program belajar bagi SDM-SDM di sektor hulu. Pekerja yang melecehkan Pak Ibnu semestinya membaca artikel ini, supaya tidak lagi melecehkan filosofi yang sebetulnya baik dan sesuai dengan konsep "mencari ilmu dari buaian hingga masuk liang lahat" yang dikembangkan Nabi Muhammad Saw pada abad ke-8. Atau the long life education system seperti diyakini orang barat beberapa abad kemudian setelah Muhammad Saw mengajarkan konsep belajar seumur hidupnya.• NS |
| Written by DIVISI KOMUNIKASI |

No comments:
Post a Comment