Oleh Jajang Suryana
Materi ajar dalam kurikulum sekolah-sekolah kita, sekalipun telah diarahkan untuk mendekati lingkungan, yaitu melalui KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), tapi ternyata masih belum banyak menyentuh kesadaran kepemilikan atas tanah air, bumi pertiwi. Apa buktinya? Banyak hal yang disampaikan dalam materi-materi ajar dari tingkat TK hingga perguruan tinggi yang cenderung mengacu kepada teori dan dominasi pola pikir milik masyarakat lain.
Periksa materi ajar sejarah. Hingga kini belum banyak yang "mau" mengungkap bagaimana keberhasilan ekonomi, tata kelola sosial-kemasyarakatan, dan benda-benda budaya (secara lengkap, tidak sekadar hasil seni bangunan dan arca!), yang pernah dicapai masyarakat masa lalu. Bagaimana kondisi Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram secara jernih. Apa yang prestasi hidup masyarakatnya.
Sumber teori kesejarahan kita, boleh jadi, masih berat ke "kebutuhan keamanan para penjajah". Sejarah versi penjajah yang telah dibukukan, kemudian menjadi buku babon, seolah sampai di situ saja. Padahal bisa dilakukan revitalisasi materi melalui penelitian dan penelusuran baru yang lebih Indonesia. Prof. Sudjoko (alm), sekalipun lebih mendalami bidang kesenirupaan, tetapi juga sangat peduli terhadap kesejarahan yang mendalam. Ia pernah bercerita, berdasarkan data, bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi DTB (Daerah Tujuan Belajar) pada masanya. Kerajaan memiliki pustakan yang sangat lengkap, asrama yang menyenangkan siswa, dan dihuni oleh murid-murid dari berbagai penjuru negara yang bertetangga. Istilah Jawadwipa dan Suarnadwipa yang pernah disebut-sebut, juga terkait dengan prestasi sosial kemasyarakatan masyakakat Nusantara.
Temuan hasil inderaja (penginderaan jarak jauh menggunakan satelit) yang pernah dipaparkan oleh Prof. Primadi Tabrani, juga dari FSRD ITB, yang pernah mendapat tugas dari negara menjadi pengolah hasil inderaja, sungguh mencengangkan. Temuan itu menggambarkan bagaimana tata kota Kerajaan Majapahit yang sangat maritim, dengan pola kota yang sama dengan pola kota modern di Eropa. Temua artefak yang juga sangat mencengangkan karena tidak jauh berbeda dengan benda-benda masa kini. Salah satu yang kecil saja misalnya, telah adanya model papping stone yang melengkapi halaman. Semua itu menjadi bukti temuan yang mestinya menjadi bahan ajar bagi generasi masa kini, dalam buku-buku sejarah, misalnya.
Kini, kita kerap dihebohkan dengan peristiwa gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan sejenisnya. Apakah sudah masuk ke dalam kurikulum perguruan tinggi hingga melahirkan jurusan atau fakultas yang khusus mengkaji masalah-masalah tadi? Rutinitas banjir Jakarta, kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, baru diterima dengan sikap nerimo, nasib. Padahal hal itu haru ditangani secara lengkap oleh para orang pintar Indonesia. Bukan mengandalkan bantuan masyarakat lain.
Sejarah geologi bumi Indonesia, terkait dengan peristiwa-peristiwa besar yang pernah terjadi. Peristiwa yang, ternyata rutin berulang, setahun, dua tahun, sepuluh tahun, bahkan ratusan tahun, belum kita bukukan sebagai bahan kajian. Kekayaan kandungan bumi Indonesia yang pengolahannya lebih banyak diurus masyarakat lain, juga menunjukkan ketidaktahuan kita tentang cara mengelola dan mengatasi anugerah Allah itu. Belajar dari Google Earth dan program-program sejenisnya, kita akan sangat kecil dalam ketidakmampuan bergerak. Semua data tentang alam kita telah dikuasai oleh bangsa lain. Semua data tentang kekayaan kita sudah diketahui orang lain. Kita sendiri adem-ayem sebagai "itik bingung yang tiduran di atas tumpukan padi".
Tidak terlambat jika kita mulai dari sekarang. Tentu, hasilnya bukan untuk generasi sekarang! Kita menata ulang sejarah kepemilikan kawasan negara ini dengan lebih baik, lebih jernih, lebih tertib administrasi, agar semua milik kita bisa kita ketahui, berapa, di mana, mengapa, untuk apa, dan bagaimana mengolahnya. Dan semua itu bisa dimulai dengan informasi yang jernih yang bisa diberikan kepada generasi muda, pewaris pengelolaan alam ini. Bukan informasi dan nilai instan yang ranum, yang menjadi materi ajar bagai siswa, tetapi informasi yang halal, thayyib, dan menyehatkan! Insya Allah!
